H.I.J.R.A.H

Putri Ayu Setia Ningrum 

Tangisan itu terdengar lirih disebalik pintu kamar yang tertutup, nafas yang mulai tersengal dan air mata yang terjatuh terasa semakin menyesakkan dada, tangisan tidak dapat dibendung setelah kata-kata itu tepat mengenai hatiku. 
"Ngapain kamu pakai jilbab sebesar itu, mau jadi apa Maryam? Mau sesat kamu, ha?" ucap ayah yang sedari tadi meredam emosi sebab hijab panjangku.

Aku kembali ke kamarku dengan perasaan sedih berkecamuk, rasanya malam terasa panjang karena mendengar kalimat menyesakkan yang dilanjutkan disebelah kamar. Aku terpaksa menutup telingaku, karena sudah tak sanggup mendengar kalimat-demi kalimat yang dilontarkan ayahku. Komat-kamit mulut ayahku mengatakan tidak suka dengan perubahan penampilan drastisku, hanya saja aku tetap bersikeras agar ayahku menyetujui dan mengizinkanku untuk berhijab syar'i.
Berat memang, dengan kebiasaan awalku yang terbiasa tomboi dan urak-urakan, menjadi lebih rapi dan tertutup seolah benar-benar drastis terlihat oleh mata orang sekitarku, aku mengetahui respon itu, tapi aku tetap yakin untuk mengenakannya.

Esok harinya aku coba berbicara perlahan didepan ayahku.
"Yah, maafin Maryam karena ngga bilang-bilang dulu mau berhijab yah, dan tiba-tiba langsung pakai syar'i, maafin aku yah" Air mataku sudah tampak dipelupuk mata, tinggal menunggu saat untuk terjatuh. 
"Yah, aku berhijab bukan karena siapa-siapa kok yah, ini semua memang benar-benar kehendak Maryam, islam yang mengajari Maryam yah, islam pula yang menjaga Maryam untuk senantiasa menjaga Ayah dan Ibu agar tidak terkena panasnya api neraka di akhirat sebab anak perempuannya tak berhijab". Aku tidak percaya bahwa aku bisa menjelaskan semua kepada ayah, mata ayah terlihat tampak berkaca-kaca setelah aku mengatakan semua itu. Ayahku berlalu meninggalkanku setelah mendengar kalimat itu. 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Ini untukmu nak," Betapa terkejutnya aku, gamis lengkap beserta hijab syar'i ayah berikan untukku.
"untuk Maryam yah?" aku memeluk ayahku dengan sangat bahagia, akhirnya ayahku mengizinkanku mengenakan pakaian syar'i, memang meski harus dengan berbagai macam amarah dicampur tangisan aku dan ayah, aku percaya bahwa Allah azza wa jalla segera mengabulkan doaku, bahkan kini aku dan keluargaku mengikutin kajian rutin bersama-sama, memang awalnya ayah dan ibuku sulit beradaptasi, tapi alhamdulillah atas izin Allah mereka mulai terbiasa. Alhamdulillah 
Catatan Penulis: 
Memang rasanya sebuah perubahan yang dilandasi keinginan untuk menjadi baik karena Allah begitu amat berat, tetapi jika keinginan lebih besar dari sebuah badai permasalahan, in sya Allah pasti Allah mudahkan. 

Semangat Hijrah Ukhuwah Fillah


Postingan populer dari blog ini

Ujian H.I.J.R.A.H